Densus 88 Antiteror menangkap enam terduga teroris di wilayah Lampung, Sumatera Barat, dan Batam selama operasi pada 7-8 November 2020.

LABURA.NET – Densus 88 Antiteror menangkap enam terduga teroris di wilayah Lampung, Sumatera Barat, dan Batam, periode 7-8 November 2020. Karo Penmas Mabes Polri Brigjen Pol Awi Setiyono membenarkan upaya preventif kepolisian.

“Di wilayah hukum Polda Lampung (Densus 88) menangkap empat orang jaringan Jamaah Islamiyah (JI),” ucap Awi dalam keterangan tertulis, Minggu (8/11/2020). Mereka adalah SA (36), S (45), I (44), dan RK (36). Total barang bukti yang disita yakni 77 buah.

SA merupakan anggota kelompok Jamaah Islamiyah dari bidang koordinasi dan sinkronisasi (kosin), yang tergabung dalam kelompok Imarudin asal Banten, di bawah kepemimpinan Para Wijayanto (kosin area Lampung).

Sementara di area Payakumbuh, Densus 88 meringkus AD alias S Parewa alias Abu Singgalang (39), dia merupakan bagian dari Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Sumatera Barat. Dilanjutkan dengan pembekukan MA alias Abu Al Fatih (34), anggota JAD, di Batam.

Kini polisi masih mengusut perkara tersebut. Perbedaan dua kelompok ini seperti, JAD terafiliasi dengan ISIS, sedangkan JI menginduk pada Al-Qaeda. Kelompok militan JI dilatih di berbagai medan, dari Afghanistan, Thailand, Malaysia, dan Filipina.

Pengalaman tempur di medan-medan perang yang beragam ini membuat aksi-aksi teror JI bukan hanya lebih cermat, melainkan juga memiliki daya rusak yang luar biasa tinggi. Peneliti terorisme Al Chaidar menjelaskan serangan Bom Bali I dan II yang dilakukan JI berdaya ledak lebih tinggi dibandingkan teror di Surabaya yang menggunakan bom pipa. Bom Bali I, misalnya, dengan berat 6 ton berhasil menewaskan 202 orang.

Kemudian, pola serangan JAD cenderung acak. Serangan-serangan mereka, selain masih berskala kecil, dampaknya juga kurang terukur dan lebih cenderung menyasar publikasi sebagai efeknya, kata Chaidar.

Pola kaderisasi JI juga lebih ketat. Ketika salah satu pimpinannya tertangkap, maka sel organisasi dihapuskan. Maka dari itu, Abu Bakar Ba’asyir seperti pemimpin tanpa pengikut. Anggota yang ditangkap aparat kepolisian pun tak bisa kembali ke dalam JI.

“JI tidak bisa sembarang masuk. Ini kalau JAD langsung main rekrut saja. Siapa saja bisa jadi JAD asal mau jihad,” ujar peneliti terorisme Al Chaidar, 15 Mei 2018. Perbedaan lainnya adalah target penyerangan.

Bila JI menyasar orang asing, JAD lebih menyasar sipil dan polisi. Selain itu, JI tidak melibatkan perempuan dalam aksinya. Maka ketika teror di Surabaya ternyata melibatkan perempuan dan anak-anak, mudah ditengarai digerakkan kelompok yang berafiliasi dengan ISIS.

(toi)

Share WhatsApp

Shares

Portal Berita dan Informasi Labura

You May Also Like